24 Juni 2012

INDONESIA: Surga Ratusan Spesies Burung

Indonesia yang kaya akan pulau dengan hutan menjadikannya sebagai salah satu negara dengan spesies burung yang paling beragam di dunia. Beberapa peneliti biologi, terutama pengamat dan antusias burung menjadkan Indonesia sebagai surge penelitian bioderversitas burung, dngan lebih dari 380 spesies yang diantaranya endemik. Jumlah itu masih terus bertambah, terutama dengan ditemukannya beberapa spesies baru di Papua.

Bila berbicara tentang spesies endemik (endemis), apa yang dimaksud dengan endemik? Spesies endemik merupakan gejala alami sebuah biota untuk menjadi unik pada suatu wilayah geografi tertentu. Sebuah spesies bisa disebut endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah tempat tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain. Wilayah di sini dapat berupa pulau, negara, atau zona tertentu. 

Perbedaan yang harus diperhatikan adalah spesies asli belum tentu spesies endemik. Namun spesies endemik pastilah spesies asli wilayah tersebut. Misalnya seperti Harimau (Panthera Tigris). Harimau merupakan spesies asli Indonesia, contohnya Harimau di Pulau Sumatera, Jawa dan Bali. Namun Harimau juga terdapat di Thailand, Malaysia, India, bahkan Afrika. Hal ini disebabkan peningkatan permukaan air laut (6.000 – 12.000 tahun yang lalu) yang menyebabkan terbentuknya pulau-pulau di Asia dan akhirnya membuat harimau tersebut terperangkap di daerah-daerah tertentu.
Ok, sudah paham masalah spesies endemik!?

Kalau begitu lanjut…!!!

Banyaknya spesies burung di Indonesia terutama spesies endemik terus terang membuat saya bingung untuk memilih jenis mana yang akan di bahas pada artikel kal ini.

Ada 380 lebih spesies burung.

Bayangkan saja. Ada 380 lebih jenis bro!!! dan itu semua masih hanya di Indonesia.

Pusing!!!

Namun setelah penelusuran yang  panjang, akhirnya Saya memutuskan untuk memilih beberapa spesies burung yang menurut Saya cukup unik untuk mewakili spesies burung di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. MALEO SENKAWOR (Macrocephalon maleo)

Maleo Senkawor atau Maleo, yang dalam nama ilmiahnya Macrocephalon maleo adalah sejenis burung gosong berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55 cm, dan merupakan satu-satunya burung di dalam genus tunggal Macrocephalon. Yang unik dari maleo adalah, saat baru menetas anak burung maleo sudah bisa terbang  Ukuran telur burung maleo beratnya 240 gram hingga 270 gram per butirnya, ukuran rata-rata 11 cm, dan perbandingannya sekitar 5 hingga 8 kali lipat dari ukuran telur ayam.

Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam.

Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.

Burng Maleo berasal dari Pulau Sulawesi namun tidak semua tempat di Sulawesi bisa ditemukan maleo. Sejauh ini, ladang peneluran hanya ditemukan di daerah yang memliki sejarah geologi yang berhubungan dengan lempeng pasifik atau Australasia. Populasi hewan endemik Indonesia ini hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi khususnya daerah Sulawesi Tengah, yakni di daerah Kabupaten Sigi (Desa Pakuli dan sekitarnya) dan Kabupaten Banggai.

Maleo Senkawor adalah monogami spesies (anti selingkuh bro…hehehe). Pakan burung ini terdiri dari aneka biji-bijian, buah, semut, kumbang serta berbagai jenis hewan kecil.

Saat ini burung maleo mulai terancam punah karena habitat yang semakin sempit dan telur-telurnya yang diambil oleh manusia. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, tingkat kematian anak burung yang tinggi, populasi yang terus menyusut serta daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Maleo Senkawor dievaluasikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List.

Galeri MALEO SENKAWOR :








2. AYAM HUTAN HIJAU (Gallus varius)

Ayam hutan hijau adalah nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak, dan sempidan. Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang sebagian ayam peliharaan yang ada di Nusantara. Ayam ini disebut dengan berbagai nama di berbagai tempat, seperti canghegar atau cangehgar (Sunda), ayam alas (Jawa), ajem allas atau tarattah (Madura). Ayam ini dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl, merujuk pada warna dan asal tempatnya.

Burung yang berukuran besar, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 60 cm pada ayam jantan, dan 42 cm pada yang betina.

Jengger pada ayam jantan tidak bergerigi, melainkan membulat tepinya; merah, dengan warna kebiruan di tengahnya. Bulu-bulu pada leher, tengkuk dan mantel hijau berkilau dengan tepian (margin) kehitaman, nampak seperti sisik ikan. Penutup pinggul berupa bulu-bulu panjang meruncing kuning keemasan dengan tengah berwarna hitam. Sisi bawah tubuh hitam, dan ekor hitam berkilau kehijauan. Ayam betina lebih kecil, kuning kecoklatan, dengan garis-garis dan bintik hitam. Iris merah, paruh abu-abu keputihan, dan kaki kekuningan atau agak kemerahan.

Ayam yang menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Ayam-hutan Hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup hingga ketinggian 1.500 m dpl, di Jawa Timur hingga 3.000 m dpl dan di Lombok hingga 2.400 m dpl.

Tak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau pandai terbang. Anak ayam hutan ini telah mampu terbang menghindari bahaya dalam beberapa minggu saja. Ayam yang dewasa mampu terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam-hutan Hijau mampu terbang lurus hingga beberapa ratus meter; bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut.

Galeri AYAM HUTAN HIJAU :







3. ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi)

Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Nisaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor).

Ciri khas dari elang ini adalah kepalanya berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap.

Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.
Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang-kadang 3.000 m dpl.

Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya. Walaupun ditemukan elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.

Mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah agihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi itu, organisasi konservasi dunia IUCN memasukkan elang Jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam kepunahan). Demikian pula, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang.

Galeri ELANG JAWA :


                                                                                                                                                                                       


4. MAMBRUK UBIAAT (Goura cristata)

Mambruk Ubiaat dalam nama ilmiahnya Goura cristata, juga dikenal dengan nama Mambruk Barat, Mambruk Biasa atau Mambruk Mahkota Biru, Goura cristata, adalah salah satu spesies burung Mambruk atau Dara Mahkota yang merupakan kerabat merpati. Burung berwarna biru keabu-abuan ini berukuran cukup besar dengan ciri khas mahkota seperti renda di atas kepalanya serta bulu gelap di sekitar matanya. Baik jantan maupun betina memiliki ukuran dan bentuk yang sama, akan tetapi jantan biasanya berukuran lebih besar. Ukuran rata-ratanya adalah panjang 70 cm (28 inci) dan berat 2.100 grams (4,6 lbs). 

Burung ini berkerabat dekat dengan Mambruk Victoria dan Mambruk Selatan, semuanya adalah jenis yang terbesar sekaligus yang tercantik dalam keluarga merpati (Columbidae). Mambruk Ubiaat adalah hewan endemik Papua Indonesia, karena hanya ditemukan di hutan hujan dataran rendah di bagian barat Pulau Papua di wilayah Indonesia; jenis lain Mambruk menghuni bagian lain dari pulau ini. Makanan utama burung ini adalah buah dan biji-bijian.

Penduduk asli Papua memburu burung ini diburu untuk dimakan dan mendapatkan bulunya yang indah dan berwarna biru. Akibat kehilangan habitat, sebarannya yang terbatas dan perburuan, Mambruk Ubiaat dikategorikan sebagai spesies rentan dalam Daftar Merah IUCN untuk spesies terancam. Hewan ini didaftarkan dalam apendiks II CITES.

Galeri MAMBRUK UBIAAT :






5. CENDRAWASIH BOTAK (Cicinnurus respublica)

Cendrawasih Botak atau dalam nama ilmiahnya Cicinnurus respublica adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang sekitar 21cm long, dari marga Cicinnurus. Burung jantan dewasa memiliki bulu berwarna merah dan hitam dengan tengkuk berwarna kuning, mulut hijau terang, kaki berwarna biru dan dua bulu ekor ungu melingkar. Kulit kepalanya berwarna biru muda terang dengan pola salib ganda hitam. Burung betina berwarna coklat dengan kulit kepala biru muda.

Endemik Indonesia, Cendrawasih Botak hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di kabupaten Raja Ampat, provinsi Papua Barat. Pakan burung Cendrawasih Botak terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga kecil.

Penamaan ilmiah spesies ini diberikan oleh keponakan Kaisar Napoleon Bonaparte yang bernama Charles Lucien Bonaparte dan sempat menimbulkan kontroversi. Bonaparte, seorang pengikut aliran republik, mendeskripsikan burung Cendrawasih Botak dari spesimen yang di beli oleh seorang ahli biologi Inggris bernama Edward Wilson beberapa bulan sebelum John Cassin, yang akan menamakan burung ini untuk menghormati Edward Wilson. Tigabelas tahun kemudian, ahli hewan Jerman yang bernama Heinrich Agathon Bernstein menemukan habitat Cendrawasih Botak di pulau Waigeo.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Botak dievaluasikan sebagai beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Galeri CENDRAWASIH BOTAK







Bagaimana? Unik bukan!?

Itu tadi beberapa spesies burung endemik Indonesia yang sangat unik menurut saya. Kalu di artikel ini ada 5 (lima) jenis spesies burung, berarti ada 375 spesies lagi tersisa, bahkan lebih yang belum dibahas. Seperti burung Jalak Bali, Rangkong, Nuri Tulaud, Kakaktua Putih, Trulek Jawa dan Lain-lain.

Galeri spesies burung endemis lainnya:

Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi)

Kakatua Putih (Cacatua Alba)

Nuri Talaud (Eos Histrio)

Trulek Jawa (Vanellus Macropterus)

Jadi masih SANGAT BANYAK BRO!!!

Hehehe…

Sebagai warga masyarakat Indonesia yang baik sudah seharusnya kita turut menjaga kelestarian alam kita, agar kelestarian burung-burung tersebut tetap terjaga. Terutama bagi spesies burung yang mulai terancam punah. Anda tidak ingin melihat mereka hanya sekedar di foto bukan!?

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar